Jumat, 24 Maret 2017

Seorang Guru yang Merasakan Perjalanan Malam

poster Night Bus (diambil di akun  +Night Bus Film m)

Pernah merasakan perjalanan di malam hari dengan bus umum?
Ini kisah saya saat merasakan perjalanan malam menuju ke kampung istri di Lahat. Kisah yang sangat mengerikan dan mencekam sebagaimana kisah yang terdapat dalam film Night Bus ini. Saat menaiki bus menuju ke Lahat itu penuh dengan adegan yang mengerikan di tambah lagi dengan kondisi malam yang penuh dengan nuansa perampokan (begal) di malam hari. Apalagi saat 20 tahun lalu bahkan lebih, dengan kondisi jalan yang masih belum bagus menuju perjalanan ke pulau Sumatera. Tapi, sekarang, ketegangan itu sudah semakin mereda.
Lalu, bagaimana pula dengan kondisi jika perjalanan di malam hari menuju daerah konflik seperti di Sampar? Kisah yang mengerikan jika membawa siswa dengan kondisi saya sebagai seorang guru. Kondisi mencekam tentu harus dihadapi dengan sebuah pesan kebaikan. Sebagai seorang guru, jika kondisi menimpa seperti itu, maka perlu penyikapan untuk menenangkan siswa jika bepergian bersama siswa dalam kondisi daerah konflik.
Lalu, jika perjalanan seorang diri menuju daerah konflik. Pastinya sangat menegangkan donk. Lihat saja kisah dalam film ini mungkin ada benarnya juga. Pernah bertemu dengan guru-guru yang mengajar di daerah 3T. Mereka mengajar dengan penuh kecemasan apalagi di daerah konflik. Dan bukan saja saat mengajar yang mengerikan. Namun nuansa ketegangan di dalam bus pun akan terasa penuh mencekam.
Sepertinya, kisah yang ditampilkan dalam film ini pun akan demikian adanya. Melihat trailer pun rasanya mengerikan. Lalu bagaimana jika pesan sebuah kebaikan harus sampai kepada seorang murid. Itulah sebuah perjuangan jika berada di dalam bus dengan penuh kegetiran dan ketakutan. Pun untuk menenangkan diri sendiri untuk bisa mengajak berdamai, orang yang sedang berkonflik. Memang, guru bukanlah siapa-siapa. Tapi setidaknya guru punya andil jika seseorang berbuat keburukan untuk menuju kebaikan, selaiknya berada dalam kondisi kelas, beraneka ragam konflik dan ketegangan siswa berada di kelas. Namun, saat berada di kelas, guru punya trik tersendiri untuk mengatasinya agar siswa mendapatkan ilmu yang diajarkan.
Dalam film ini pun saya berharap demikian, perjalanan di bus malam harus sampai dengan penuh kedamaian. Film Night Bus yang akan tayang serentak di bioskop pada 6 April 2017 ini sepertinya juga mengajarkan arti kedamaian dan kebaikan di dalamnya.





Minggu, 22 Januari 2017

Berpetualang Seakan Membaca Alam Semesta

foto bersama kru film Iqro (dok.pri)


                Sebuah film anak bukan semata hiburan semata bagi anak-anak, namun perlu juga ditaburi dengan pesan yang mendalam untuk anak. Iqro, Petualangan Meraih Bintang sebuah film anak layar lebar terbaru garapan Salman Film Academy ini mampu mewujudkan film anak dengan penggabungan sisi anak, agama, dan ilmu pengetahuan.
                Cok Simbara, pemeran Opa Wibowo tertarik bergabung dengan film ini karena ide film yang cair dan kekanak-kanakan namun dibumbui dengan sisi saintis. “Melihat skrip, saya langsung mengiyakan untuk bergabung dalam film ini karena penggabungan sisi religi, kanak-kanak, dan sains,” ujar Cok Simbara.
Cok Simbara saat pers conference (dok.pri)
                 Menanggapi tentang kehadiran Cok Simbara dalam film ini justru membuat Iqbal Alfajri selaku sutradara film Iqro ini tidak terlalu sulit untuk reading dan karakter film dalam pemeran film. “Film ini merupakan film yang saya inginkan, karena bagi saya dalam membuat film yaitu film tersebut harus sesuai dengan yang saya inginkan. Terlebih dalam film ini ide serta penulisan naskah film, saya juga turut andil di dalamnya,” Pungkas Iqbal Alfajri.
                Namun bagi saya dalam menikmati film Indonesia terlebih ada unsur anak-anak membuat saya ingin mengajak keluarga dalam menonton film ini. Berhasil. Ya, pada hari Minggu (22/1) saya berhasil mengajak serta istri dan dua anak saya menikmati film ini.
                Tanggapan istri saya dalam menanggapi film ini yaitu film inspiratif dan mengena terutama dalam pengajaran metode belajar mengaji dengan metode Iqro. Istri saya melanjutkan bahwa Film ini memberikan sebuah pengajaran yang cair bagaimana sisi parenting ditampilkan dengan penggabungan sisi ilmu pengetahuan dengan sisi keagamaan. Sisi seorang anak yang teguh dalam meminta sesuatu memang sulit untuk diarahkan ke dalam sebuah kebenaran, nah di sisi film ini terungkap bagaimana kisah Opa Wibowo beserta Oma mengajak Aqila tentan sisi agama dengan perpaduan sains yaitu dengan metode mengaji dibarengi dengan sisi melihat Pluto.
                “Pluto bukanlah sebuah planet” begitulah ungkapan Aqila dalam awal film yang meneruskan kepada indahnya film ini dengan mengambil sisi ruang angkasa.
                Berbeda dengan tanggapan kedua anak yang coba saya bawa menonton film ini. Saya mencoba mengorek tanggapan dari anak pertama saya, Zaza. Zaza berkomentar bahwa dalam film ini Kakaknya (Aqila) baru belajar Iqro 5 sama sepertiku (baca: zaza). Selain itu, zaza menyebutkan bahwa kakaknya mau ke bulan dan ke bintang lewat teropong.
                Berbeda dengan anakku yang masih berumur 3 tahun, Fathir. Fathir mengungkapkan bahwa dalam film ini kakaknya (Aqila) belajar Iqro sama seperti Ayuk Zaza. Selain itu Fathir mengungkapkan bahwa film ini ada bulan dan bintang seperti dalam permainan yang ada dalam android Abi (diriku). Bukan saja itu, Fathir yang belum mencerna benar tentang film ini, dia mengatakan bahwa fathir yang masih Iqro 1 akan bersungguh-sungguh seperti Kakak (Aqila).
istri dan dua anakku sesaat sebelum gala premiere Iqro (dok.pri)
                 Bagiku selaku blogger yang juga penikmat film tentang sisi humanis dalam film masuk dan mengena terutama dari sisi preman yang akhirnya insaf yang diperankan oleh Mike Lucock.
                Bagiku film yang diawali dari sebuah tugas seorang guru kepada peserta didik memberikan inspirasi bahwa metode pengajaran bukan sekedar berada dalam ruangan namun perlu juga metode pengajaran di luar yaitu dengan penelitian sendiri dari sang anak. Sisi ini diperankan apik oleh Aqila untuk meneliti kebenaran bahwa Pluto bukanlah planet dari laboratorium Boscha di Lembang dan bagaimana sisi terang dari adanya Pluto ini. Sedangkan temannya yang lain justru mengambil tema tentang keindahan kupu-kupu yang langka berkembang biak di daerah Lampung.
                Metode pengajaran IPA tematik ini menarik dan bisa menjadi inspirasi bagi pendidik di tingkat Sekolah Dasar dan sederajat.
                Rasa keingintahuan dari sisi peserta didik justru sang pendidik mengarahkan agar peserta didik mencari tahu sendiri dengan observasi.
                Aqila pun berangkat menuju ke embang untuk berlibur diiringi pengerjaan tugas tersebut. Namun, Opa Wibowo selaku kakeknya Aqila yang bekerja di Boscha memberikan tantangan lain karena Aqila belum bisa/lancar membaca Al-Quran. Aqila pun berusaha untuk memenuhi keinginan Opanya untuk bisa/lancar baca Alquran demi melihat langsung Pluto dan menuangkan dalam paper tugas sekolahnya.
                Tantangan Aqila bukan saja seperti itu. Dalam film ini justru menambahkan sisi kebaikan bangun malam yaitu dengan aturan di rumah Opa Wibowo untuk shalat shubuh berjamaah. Otomatis Aqila pun mengikuti aturan tersebut. Salah satu resep dan keuntungan dari bangun sebeum shubuh yaitu kejernihan pikiran untuk belajar.
                Cerita berlanjut dengan sedikit demi sedikit perpaduan sisi agamis ditampilkan. Bagaimana pengenalan sisi kitab suci dari Opa Wibowo kepada Aqila.
                Sisi parenting lainnya yaitu dipadu padankan dari sisi keusilan seorang anak meskipun sang anak pintar. Orangtua perlu pintar-pintar memberi masukan kepada sang anak dengan metode yang tepat dan pas. Disinilah inspirasi hadirnya pesan tersebut.
                Sisi lainnya dari isi kandungan kitab suci yaitu ditampilkan dengan tidak bolehnya manusia merusak alam. Penampilan sisi ini benarlah terjadi di sekitaran laboratorium Boscha. Kisah nyata ini menjadi sebuah mozaik dalam kehadiran film ini untuk tidak merusak alam. Karena adanya kerusakan alam, keindahan alam semesta tidak bisa terlihat.
                Sisi inspiratif lainnya yaitu sangat banyak sepertinya. Lebih baik tonton sendiri saja ya.. pada tanggal 26 Januari 2017 di bioskop kesayangan. Pokoknya sisi inspiratif ini benar-benar diambil dari sisi pendalaman nilai-nilai agamis untuk sang anak dari kitab suci tanpa harus menggurui sang anak. Pokoknya saya dan keluarga bersyukur bisa menonton gala premiere film inspiratif ini dengan sisi petualangan seakan melihat alam semesta melalui kandungan kitab suci Al-Quran.
poster gala premiere Iqro bersama KOPI (disain SaE)

Trailer Iqro (dok. Iqro)